JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan bahwa infrastruktur merupakan kunci untuk memajukan sektor kelautan dan perikanan.

Hal tersebut disampaikan Menko AHY, yang baru saja mendarat usai meninjau kawasan Aceh Tamiang, saat menjadi pembicara kunci dalam Diskusi Publik Hari Nusantara 2025 yang mengusung tema “Road Map Pembangunan Infrastruktur Kelautan dan Perikanan Menuju Indonesia Emas 2045”, Kamis (11/12/2025).

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN) bekerja sama dengan Perkumpulan Wredatama Kelautan dan Perikanan (PWKP).

Pada kesempatan tersebut, Menko AHY menyampaikan kondisi terbaru pasca bencana yang menimpa beberapa wilayah di Indonesia, yaitu Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Bencana akibat tropical cyclone ini memberikan dampak signifikan terhadap infrastruktur di wilayah terdampak.

“Kami langsung terbang ke lokasi, melakukan operasi modifikasi cuaca, dan memastikan logistik dapat dijangkau menggunakan pesawat maupun helikopter ketika akses darat terputus,” jelas Menko AHY.

Menko AHY juga menyampaikan hasil kunjungannya beberapa waktu lalu ke Sumatra Barat. Ia menyoroti kondisi jalur strategis yang menjadi penghubung Sumatra dan Riau, yaitu Lembah Anai, yang sempat terputus sehingga memerlukan percepatan perbaikan untuk mendukung transportasi dan pengiriman logistik.

“Ini segera perlu perbaikan, dan alhamdulillah tiga hari lalu sudah tersambung kembali walaupun secara temporer. Di situlah pentingnya kehadiran langsung untuk mempercepat prosesnya—yang tadinya diperkirakan dua minggu bisa menjadi lima hari. Walaupun secara permanen masih membutuhkan waktu lebih lama,” ungkapnya.

Berbicara mengenai infrastruktur kelautan dan perikanan, Menko AHY menegaskan bahwa sebagai negara maritim, Indonesia memiliki sumber daya kemaritiman yang melimpah yang harus dijaga dan dikawal agar manfaatnya dapat dirasakan sebesar-besarnya oleh masyarakat.

“Infrastruktur adalah backbone pembangunan bangsa. Sektor kelautan dan perikanan memiliki potensi luar biasa, tetapi semuanya membutuhkan infrastruktur yang kuat dan terintegrasi,” tegasnya.

Menko AHY juga menyampaikan bahwa Produk Domestik Bruto dari sektor kemaritiman, kelautan, dan perikanan telah berkontribusi baik di angka 7,9% pada 2024. Ia turut menyoroti besarnya potensi energi baru terbarukan dari sektor kemaritiman.

“Kita ingin energi kita semakin berpihak pada energi hijau dan bersih. Berdasarkan RUPTL 2025–2034, dalam sepuluh tahun ke depan kita akan menambah 69,5 GW kapasitas listrik nasional dan 70% di antaranya berasal dari energi baru terbarukan,” ujarnya.

Menko AHY juga menyoroti Kampung Nelayan Merah Putih sebagai proyek strategis dengan pembangunan ekosistem, sarana dan prasarana, serta penguatan kelembagaan, termasuk akses terhadap pembiayaan.

“Kita harus membangun rantai pasok yang efisien, memodernisasi galangan kapal, memastikan konektivitas maritim, dan membuka akses pasar global. Nelayan kita harus semakin sejahtera,” kata Menko AHY.

Menko AHY optimistis bahwa kontribusi sektor maritim terhadap PDB nasional dapat meningkat sesuai target RPJMN, yakni mencapai 12,5% pada 2045. Ia mengakui bahwa pencapaian ini tidak mudah, tetapi dengan orkestrasi yang baik, integrasi, dan kolaborasi lintas sektor, target tersebut dapat diwujudkan.

“Mari kita terus membangun sinergi dan kolaborasi antar semua sektor. Saya siap bersama KKP untuk terus memajukan sektor kelautan dan perikanan Indonesia. Pada akhirnya, saya mengucapkan selamat Hari Nusantara yang jatuh pada 13 Desember 2025,” pungkas Menko AHY.

Hadir dalam kegiatan ini Ketua Umum Masyarakat Perikanan Nusantara Herman Khaeron, Staf Khusus Menko Bidang Komunikasi dan Informasi Publik Herzaky Mahendra Putra, serta Staf Khusus Bidang Kerja Sama Lembaga Non Pemerintah dan Kerja Sama Luar Negeri Merry Riana.