CIKARANG – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengajak Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam merumuskan pemikiran dan rekomendasi kebijakan di tengah fragmentasi geopolitik serta geoekonomi global. Ajakan tersebut disampaikan dalam Konvensi Nasional XVII AIHII di President University, Jababeka, Cikarang, yang mengangkat tema “Melampaui Fragmentasi: Konstelasi Kuasa, Inovasi dan Tata Kelola Global Masa Depan”.
Menko AHY menilai bahwa meningkatnya rivalitas kekuatan besar, melemahnya efektivitas institusi multilateral, konfrontasi geoekonomi, hingga disrupsi teknologi menuntut respons kebijakan yang semakin berbasis pengetahuan dan analisis strategis. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi pengamat perubahan dunia, tetapi juga perlu berkontribusi dalam menentukan pilihan strategis Indonesia. “Di tengah dunia yang semakin kompleks, kita membutuhkan pemikiran akademik yang kritis, independen, dan berbasis data. AIHII memiliki kapasitas besar untuk menjembatani perkembangan ilmu hubungan internasional dengan kebutuhan nyata pengambilan kebijakan nasional,” ujar Menko AHY.
Menurut Menko AHY, kontribusi AIHII dapat diperkuat melalui pengembangan kajian strategis, analisis risiko geopolitik, penyusunan skenario jangka panjang, serta rekomendasi kebijakan yang konstruktif dan dapat diimplementasikan. Ia juga mendorong penguatan kolaborasi antarkampus, lembaga pemikiran, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil. “Saya berharap AIHII semakin berperan sebagai mitra strategis pemerintah. Kita perlu mempertemukan ketajaman analisis akademik dengan kebutuhan kebijakan yang konkret, agar gagasan-gagasan terbaik dari kampus dapat memberikan manfaat nyata bagi bangsa,” katanya.
Menko AHY juga menggarisbawahi pentingnya AIHII dalam mempersiapkan generasi baru diplomat, akademisi, birokrat, dan pemimpin masa depan yang berwawasan global. Menurutnya, Indonesia membutuhkan SDM yang bukan hanya mampu memahami dinamika internasional, melainkan juga memiliki keberanian dan kapasitas untuk memengaruhi arah perubahan tersebut. “Mari kita bangun sinergi yang lebih kuat antara dunia akademik dan pemerintah. Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya menjadi visi pembangunan, tetapi harus menjadi kerja kolektif yang ditopang ilmu pengetahuan, kepemimpinan, inovasi, dan semangat pengabdian kepada bangsa,” tegas Menko AHY.
Konvensi Nasional XVII AIHII tersebut juga dihadiri Rektor President University Handa Satyanugraha Abidin, Ketua Umum AIHII Agus Haryanto, serta sekitar 200 peserta yang terdiri atas guru besar, dosen, dan peneliti ilmu hubungan internasional dari 61 universitas se-Indonesia.
Menko AHY didampingi Staf Khusus Menko, Agus Jovan Latuconsina, Merry Riana; Staf Khusus Menteri PU, Ahmad Khoirul Umam dan Tenaga Ahli Menko, Rio Neswan.





Leave A Comment