Oleh AGUS HARIMURTI YUDHOYONOKetua Umum DPP Partai Demokrat

 

Setelah lebih dari sebulan kita membatasi ruang interaksi sosial akibat pandemi Covid-19, penulis banyak merenungkan betapa dahsyatnya dampak bencana ini bagi Indonesia ataupun dunia.

Ada kesedihan, terutama Ramadhan kali ini harus kita jalani dengan cara dan pendekatan berbeda dibandingkan sebelum-sebelumnya. Apakah situasi ketidakpastian akibat Covid-19 ini akan menjadi kondisi normal baru, yang mengubah cara hidup bangsa kita ke depan?

Tidak hanya laku keseharian kita yang berubah, juga bagaimana kita belajar, bekerja, berbelanja, atau bersosialisasi. Sistem kerja politik dan pemerintahan pun mengalami pergeseran.

Yang semula tak mengenal bahkan antisistem daring, kini berlomba menjalankan komunikasi dan koordinasi memanfaatkan perangkat teknologi informasi dan komunikasi. Pemandangan berbeda juga kita rasakan dalam laku keberagamaan masyarakat kita belakangan ini.

Ada kesedihan, terutama Ramadhan kali ini harus kita jalani dengan cara dan pendekatan berbeda dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Sebagaimana kita ketahui, kepatuhan dan kedisiplinan terhadap aturan menjaga jarak, disiplin mengenakan pelindung diri, dan menjaga kebersihan masing-masing merupakan kunci keberhasilan untuk melawan pandemi ini.

Semua itu ternyata memiliki dampak serius pada laku keberagamaan kita. Kedatangan Ramadhan yang selama ini kita rayakan dengan berbagai cara, kini harus kita jalankan melalui metode pembatasan sosial untuk menghindarkan kita dari penyebaran Covid-19 ini.

Penulis merasa, ‘normal baru’ dalam laku keberagamaan kita ini memberikan sejumlah hikmah dan pelajaran berharga yang berpengaruh besar terhadap cara pandang dan pola keberagamaan masyarakat kita ke depan.

Pertama, pandemi Covid-19 mengajarkan pentingnya beragama secara logis dan rasional. Yakni, perilaku keberagamaan yang senantiasa selaras dan berpijak pada ilmu pengetahuan. Sebab, hubungan agama dan ilmu pengetahuan itu saling menguatkan.

Karena itu, klaim sebagian pihak yang menyatakan, “saya lebih takut kepada Allah dan tidak takut pada virus korona”, seyogianya tak lagi berkembang. Penulis percaya, Islam mengajarkan konsep ‘ikhtiar’ untuk menjauhkan diri dari kemudharatan yang lebih besar.

Kedua, selaras dengan esensi puasa pada bulan Ramadhan, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat ini juga mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berlatih ‘menahan diri’.

Tidak hanya menahan diri dari hawa nafsu, tetapi juga ritual berskala besar dan silaturahim yang selama ini menjadi tradisi di negeri kita. Pandemi ini memberi ruang lebih besar untuk mendekatkan diri kepada Tuhan lewat ibadah di tengah keheningan sosial.

Pandemi ini memberi ruang lebih besar untuk mendekatkan diri kepada Tuhan lewat ibadah di tengah keheningan sosial.

Di sisi lain, momentum ini juga harus kita manfaatkan untuk mulai merancang gagasan dan kerja-kerja sosial berskala besar untuk menolong mereka yang membutuhkan uluran tangan.

Ketiga, pandemi Covid-19 di tengah Ramadhan ini menjadi pemantik kesadaran soal pentingnya membangun solidaritas kemanusiaan kepada sesama.

Kepedulian membantu nasib masyarakat terdampak krisis , utamanya yatim piatu, fakir miskin, kaum lansia, dan difabel, merupakan pengejawantahan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.

Keempat, setiap gerakan sosial berupa bantuan dan aksi kemanusiaan yang kita ikhtiarkan, harus menjadi penguat fondasi dan tali persaudaraan. Kepedulian sosial di tengah pandemi merupakan momentum menghapus polarisasi politik yang selama ini terjadi.

Setiap bantuan dan aksi kemanusiaan harus didistribusikan secara adil dan merata kepada mereka yang membutuhkan, tidak hanya kepada sesama umat Islam, tetapi juga saudara-saudara sebangsa setanah air, termasuk umat agama lainnya.

Kelima, Ramadhan di tengah pandemi ini juga harus menjadi momentum memperkuat persatuan dan soliditas antarkomponen bangsa. Mari “mengendalikan diri” dari sikap dan pernyataan publik yang membingungkan serta merendahkan pihak lain.

Berbagai masalah komunikasi dan koordinasi terjadi, baik antarlembaga pemerintahan, antarpemerintah pusat dan daerah, maupun antara pemerintah dan masyarakat. Itu semua harus segera diatasi.

Pemerintah, termasuk aparat penegak hukum, harus lebih empati dan memahami bahwa kritik publik di tengah krisis ini merupakan suara rakyat yang sedang gundah, marah, cemas, dan takut akan segala ketidakpastian terhadap dirinya.

Tolong dengarkan mereka. Sebaliknya, masyarakat juga harus berupaya lebih bijak dalam menyuarakan pendapat dan kritiknya kepada pemerintah. Mari bersatu. Jangan ada provokasi dan kriminalisasi di tengah pandemi.

Ke depan, perhatian dan sumber daya negara harus terus dioptimalkan demi mempercepat penanganan pandemi. Pengetatan PSBB, percepatan tes massal bagi kelompok rentan terinfeksi, distribusi bantuan sosial, dan stimulus ekonomi harus simultan.

Saat ini, penyebaran Covid-19 masih menunjukkan tren kenaikan. Pada saat yang sama, persentase kematian juga belum turun dari angka rata-rata delapan persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia dan negara di kawasan Asia Tenggara.

Semua pihak tentu mendukung dan mengapresiasi setiap langkah pemerintah sepanjang itu menjadi solusi yang tepat dan efektif. Karena itu, mari kita bergerak bersama-sama untuk menyempurnakan ikhtiar.

Penulis percaya, manusia wajib berusaha, tapi Tuhan jugalah yang menentukan. Mari kita ambil hikmah dari momentum Ramadhan di tengah pandemi ini. Dengan menyempurnakan ikhtiar disertai doa dan keyakinan, insya Allah ada secercah harapan di ujung jalan.

 

2 Mei 2020 Republika