Setahun berlalu nyaris tidak terasa semenjak majalah Strategi edisi pertama lahir, sekaligus menandai berdirinya The Yudhoyono Institute. Hari demi hari terasa berlari, berkejaran dengan kami yang bergegas mewujudkan mimpi-mimpi yang kami bangun bersama lembaga ini. Apa yang mesti dikerjakan lebih banyak daripada waktu yang tersedia.

Dalam artikel ini, saya ingin berbagi tentang jejak-jejak pemikiran saat bertemu dengan letupan-letupan energi muda dari seluruh Nusantara ini, disarikan dari kuliah-kuliah umum yang saya berikan pada periode 2017- 2018.

ENERGI MUDA NUSANTARA

Pada peluncuran The Yudhoyono Institute, 10 Agustus 2017, saya menyampaikan pidato tentang generasi emas 2045. Ini cita-cita jangka Panjang kita, memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia, stabilitas sosial-politik, dan bonus demografi untuk mencapai puncak kejayaan Indonesia, 100 tahun setelah merdeka. Saya menekankan pentingnya kualitas sumber daya manusia untuk mengawaki Indonesia menggapai puncak pencapaian tersebut.

Demi menggugah kesadaran yang lebih luas, saya memenuhi undanganundangan kuliah umum di berbagai kampus dan tempat pertemuan. Mulai dari gedung pertemuan kecil di Pidie sampai pada aula kampus di Jayapura, saya menemui jiwa-jiwa dan pikiranpikiran muda ini, mendengarkan dan berdialog dengan mereka.

Selama hampir 12 bulan, dalam kapasitas sebagai Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, saya menapakkan kaki di sembilan provinsi dan 24 kabupaten-kota, menyampaikan kuliah umum pada lebih dari 20 ribu mahasiswa/i, menggunakan berbagai moda transportasi udara, darat, dan air.

Perhatian dan pertanyaanpertanyaan mereka menarik. Cut Raisa Nanda di Lhokseumawe Aceh, misalnya, khawatir tentang robotik. “Sebenarnya yang kita sebagai manusia harus khawatirkan, kenapa robot bisa lebih pintar dari kita, padahal kita tahu kecerdasan kita terbatas, sedangkan robot itu bisa diperbarui dan lebih cerdas karena itu mesin, ya kan?” tanya Cut secara retoris di aula Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh Utara. “Jadi kita perlu khawatir dan harus menanggulangi hal tersebut. Bayangkan kalau robot mengganti pekerjaan kita, jadi dunia tenaga kerja berkurang pasti sangat tidak bagus untuk kita.”

Selain soal teknologi, anak-anak muda ini menyimak tentang isu tenaga kerja asing, soal turbulensi ekonomi, kriminalitas dan potensi benturan sosial di sana-sini, hingga terorisme dan berbagai hal lain, yang mencemaskan mereka. Tapi jangan buru-buru lompat pada kesimpulan bahwa mereka adalah generasi yang muram.

Mereka adalah anak-anak muda yang ceria, penuh semangat, dan optimisme. Mata-mata mereka yang berbinar-binar, genggaman tangan mereka yang kuat, senyum yang hangat dan teriakan atau pertanyaan spontan serta tentu saja aneka upaya selfie yang menjadi ciri generasi mereka, menyiratkan optimisme, kreativitas serta daya hidup yang kelak menjadi bekal berharga bagi mereka dalam mengarungi masa depan.

JANGAN JADI KATAK DALAM TEMPURUNG

Semangat muda ini terasa dimanapun saya ketemu mereka, baik empat ribuan mahasiswa/i Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah, di aula mereka yang megah dan luas, lebih dari seribu pelajar dan mahasiswa di kota Pidie, Aceh, yang saya temui di Gedung pertemuan yang penuh sesak, ratusan calon bidan di Bukittinggi, Sumatera Utara, yang riuhnya terdengar sampai keluar aula kampus mereka, hingga ratusan mahasiswa/i yang antusias dan kritis di kampus Universitas Cendrawasih, Jayapura, Papua.

Dengan semangat dan daya kritisnya, merekalah kelak yang menerima tongkat estafet untuk menyiapkan generasi emas guna mengawaki Indonesia mencapai puncak kejayaannya pada tahun 2045.

Pada mereka, saya menyampaikan tentang perkembangan-perkembangan yang terjadi di dalam maupun di luar negeri, potensi-potensi bangsa Indonesia dan bagaimana kita, generasi muda, bisa memaksimalkan potensipotensi diri guna meraih pencapaianpencapaian yang mengantar bangsa Indonesia pada kejayaannya.

Saya menekankan pentingnya mereka membuka wawasan dan berpikir terbuka. “Jangan seperti katak dalam tempurung,” kata saya pada para mahasiswa/i di Lampung, Mei 2018 lalu. “Lihatlah dunia secara luas, lihatlah Indonesia secara utuh, lihatlah daerah kita juga secara komprehensif, agar kita bisa mendapatkan pemahaman yang lebih baik sebelum kita bisa memberikan solusi terhadap permasalahan di negeri ini.”

Beberapa butir pemikiran lainnya yang saya sampaikan pada anak-anak muda di seluruh Nusantara ini antara lain:

OPTIMISME DALAM MEMBANGUN NEGARA

Ada banyak alasan untuk mengeluh pada saat ini: soal daya beli yang menurun, pekerjaan yang makin sulit didapat atau dipertahankan, isu kesenjangan yang makin lebar, ditambah isu tenaga kerja asing; berkurangnya rasa aman; korupsi, kriminalitas, narkoba, dan perilaku seks bebas yang terasa ada dimana-mana; penegakan hukum dan keadilan yang hanya tajam untuk golongan tertentu saja, dan seterusnya.

Tapi berkeluh kesah saja tidak menyelesaikan persoalan. Saya ingat ungkapan yang pertama kali muncul tahun 1907 dari William L. Watkinson, jauh lebih baik menyalakan sebatang lilin, daripada mengutuk kegelapan.

Dalam pendidikan dan penugasan militer dahulu, saya belajar dan berlatih untuk optimis dalam menghadapi kondisi sesulit apapun, yang bahkan mungkin nyaris tidak mungkin. Pengalaman, yang dibuktikan berbagai riset, menunjukkan bahwa optimisme merupakan faktor penting, yang membedakan pemenang dari pecundang. Sebaliknya, optimism menimbulkan kemauan, dan kemauan membuka jalan. Seperti kata ungkapan yang masyhur: dimana ada kemauan, di situ ada jalan.

“Kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang besar harus memiliki optimisme,” kata saya di depan lebih dari seribu mahasiswa dan civitas akademika Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh Utara. “Kualitas orang diukur ketika dia gagal dan seberapa cepat dia bangkit, seberapa cepat dia move on dan terus maju ke depan.”

BERMIMPI DAN BERUSAHA REALISASIKAN SESUAI BIDANG DAN KEAHLIAN MASING-MASING

Dalam berbagai kesempatan, saya selalu menganjurkan agar anak-anak muda Indonesia berani bermimpi besar dan kemudian berikhtiar keras mewujudkannya. Jika mimpi saja tidak berani, bagaimana kita akan melakukan lompatan-lompatan besar untuk menuju puncak pencapaian?

Sejarah mengajarkan pada kita bagaimana kejadian-kejadian yang mengubah arah sejarah atau bahkan peradaban manusia, seringkali dimulai oleh mimpi yang dianggap mustahil. Mulai dari penemuan listrik, pesawat terbang, telepon, hingga berakhirnya perbudakan, kolonialisme, yang diikuti oleh kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah. Tanpa mimpi para Bapak Bangsa kita, niscaya tanggal 17 Agustus 1945 kita belum akan memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

“Mimpi besar kita semua: Indonesia emas tahun 2045,” kata saya di depan ribuan mahasiswa/i di Universitas Hasanuddin, Sulawesi Selatan, bulan Oktober 2017 lalu. “Tentu ini diawali dari hal–hal kecil, tidak mungkin mimpi besar akan terjadi begitu saja. Kita harus bekerja keras, work hard, untuk bisa mewujudkannya. Mulai step by step, dari yang kecil kemudian yang besar, dan ketika dalam perjalanan itu dalam perjuangan dan prosesnya, kita menemui kegagalan seperti ketika saya gagal dalam pilkada Jakarta yang lalu, jangan pernah putus asa. Never give up!”

KREATIVITAS LOKAL, GOING GLOBAL

Salah satu yang konsisten saya lakukan ke mana pun saya pergi ke berbagai pelosok Indonesia adalah mencicipi kuliner lokal, mengenakan kain tenun lokal, serta, sebisa mungkin mengunjungi obyek wisata serta pasar setempat. Saya sudah pergi ke 22 provinsi dan lebih dari 100 kabupatenkota sejak April tahun 2017 lalu, baik mewakili The Yudhoyono Institute, maupun dalam kapasitas lain. Kemanapun kaki melangkah, saya tak pernah berhenti terpesona dengan kekayaan budaya Indonesia serta keragaman orang-orangnya.

Satu hal yang menggembirakan, makin banyak anak muda yang menekuni warisan budaya bangsa ini. Mereka dengan kreatif mengembangkannya menjadi produk budaya kontemporer, yang memadukan nilai-nilai kearifan nenek moyang kita dengan selera kekinian. Teknologi memudahkan mereka menemukan pembeli, dan mengirimkannya ke berbagai penjuru.

Dimanapun bertemu dengan komunitas muda, saya selalu menantang mereka untuk berani berkreasi dan berani going global. Para mahasiswi Sekolah Tinggi Kesehatan Fort de Kock, Bukittinggi, Sumatera Barat, bertepuk tangan riuh saat saya tanya kapan bisa makan di Rumah Makan Padang di New York, pada komunitas anak-anak muda yang mengembangkan kopi rakyat di Wonosobo, saya dorong mereka untuk meluaskan pemasaran ke pasar-pasar kopi internasional, pada anak-anak muda di Malang, Jawa Timur, yang kini dikenal sebagai salahsatu kota start-up, saya menantang mereka untuk menelurkan produk kreatif berkualitas dunia. Tantangan yang sama saya sampaikan pada para mahasiswa di Universitas Pattimura,Ambon, Maluku, IAIN Kendari,Sulawesi Tenggara, UIN Suska di Riau, dan belasan perguruan tinggi lainnya. “Tidak cukup menjadi pemenang di negeri sendiri tapi kita ingin menjadi semakin kuat di mata dunia internasional,” kata saya di depan para mahasiswa Universitas Hasanuddin, Sulawesi Selatan.

KUNCI PENTING: KAPASITAS INTELEKTUAL, KEPEMIMPINAN EFEKTIF, PEMBANGUNAN KARAKTER.

Setelah menyadari potensi yang bisa kita raih untuk mencapai Indonesia Emas 2045, para anak muda ini rata-rata kemudian bertanya, apa yang mesti mereka siapkan untuk bisa menyongsong peluang ini? Studi apa yang harus mereka tempuh? Teknologi apa yang mesti mereka kuasai? Dan seterusnya.

Menurut saya, ada yang lebih mendasar dari semua itu, yang mesti dikuasai anak-anak muda= guna mengawaki Indonesia menuju kejayaannya:

Kapasitas intelektual: ini adalah kemampuan untuk cepat belajar dan beradaptasi dengan perubahan, karena sekarang kita hidup dalam era perubahan. Ada banyak hal baru, pengetahuan baru, pekerjaan baru, dan tantangan-tantangan baru yang 10 atau bahkan lima tahun lalu belum terlihat, misalnya soal big data, kecerdasan buatan, teknologi robotik, rekayasa genetik, mobil otonom dan lain-lain.

Sulit mengharapkan sistem pendidikan yang ada sekarang untuk beradaptasi secepat perkembangan zaman. Cara yang lebih praktis adalah membekali diri dengan kemampuan untuk dengan cepat belajar hal-hal baru dan beradaptasi dengan perubahanperubahan yang terjadi.

Internet menyediakan sumber pembelajaran yang luar biasa, termasuk akses belajar dan akses perpustakaan ke universitas-universitas top dunia, dengan biaya sangat murah atau bahkan gratis. Ponsel cerdas yang kita genggam sekarang punya kemampuan komputasi yang jauh lebih kuat ketimbang super computer yang digunakan untuk mendaratkan manusia di bulan tahun 1969. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak membangun kemampuan swa-belajar (self-learning) guna terus menyesuaikan diri.

Kepemimpinan yang Efektif: Tidak mungkin Indonesia bisa mencapai kejayaannya tanpa kepemimpinan yang efektif, melibatkan seluruh komponen bangsa.

Memang lebih mudah mengucapkannya, ketimbang mempraktekkannya, apalagi dalam situasi sekarang, saat dinamika perubahan muncul dari segala penjuru, terjadi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, ‘berkat’ teknologi.

Kita membutuhkan kepemimpinan yang visioner, yang mampu melihat masa depannya, peluang, dan tantangan. Selain itu penting kemampuan untuk mewujudkan itu semua menjadi langkah-langkah nyata. Kepemimpinan belumlah efektif jika baru masih di atas kertas.

Kemampuan dan integritas tinggi: nasionalisme dan patriotisme abad 21

Pada satu kesempatan, saya ditanya kenapa keluar dari dinas militer padahal jalur karier sedang bagus. Penanya menganggap keputusan saya ini sebagai tidak patriotik, karena tidak pegang senjata lagi.

Setelah 73 tahun kita merdeka, rupanya cukup banyak yang tidak menyadari bahwa makna patriot mengalami pergeseran.

“Pada masa dulu patriot adalah kerelaan kita mengangkat senjata. Saat ini penjajah sudah tidak ada,” kata saya di depan para mahasiswa/i Universitas Negeri Surabaya. “Para prajurit TNI menegakkan bendera persatuan bangsa-bangsa, bertugas sebagai pasukan perdamaian dunia, mereka adalah patriot. Diplomat juga patriot, memperjuangkan kepentingan nasional dan kepentingan bersama dunia. Para atlet kita berjuang mengharumkan nama bangsa juga patriot.”

Artinya, saya melanjutkan, “Patriotisme abad 21 melintasi batas geografis, profesi, dan demografis. Siapa pun dia, yang membela kebangsaan kita mereka adalah patriot.”

Dengan demikian, ukuran patriotisme anak muda abad 21 bukan lagi soal menyandang senjata, tapi kemampuan serta integritas yang tinggi untuk memberi kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara, dimanapun ia berada.

Semangat kolaborasi dan sinergitas Sebagai digital native, generasi milenial (Y) dan generasi Z tumbuh besar dalam alam digital. Mereka secara naluriah melakukan kolaborasi dan sinergi, melampaui batas waktu dan tempat, memanfaatkan teknologi internet.

Kita melihat banyak perusahaan atau inisiatif rintisan (start-up) yang lahir dari kolaborasi dan sinergi lintas batas bahkan sering lintas bangsa ini. Ini berlaku bagi rintisan di bidang komersial maupun sosial.

Tapi di sisi lain, kebiasaan dua generasi ini untuk always on, membuat mereka rentan menjadi korban manipulasi informasi, dalam bentuk info palsu (hoax).

“Jangan sampai kita jadi generasi yang menjadi korban atau menebar hoax,” kata saya mengingatkan di depan ratusan mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Fort de Kock, Bukittinggi, Sumatera Barat, “Dulu kita diajarkan sejak kecil, fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Dulu mulutmu harimaumu, sekarang mulutmu jempolmu. Hati-hati.”

Fenomena hoax ini patut diwaspadai karena melanda siapapun apapun tingkat pendidikan atau sosial ekonomi seseorang. Kemampuan berpikir kritis (critical thinking) akan membantu mengurangi kemungkinan seseorang menjadi korban manipulasi informasi ini. Karena itu, kita harus cerdas dan bijak memanfaatkan teknologi komunikasi, tidak mudah langsung percaya, harus memverifikasi apapun berita yang tersebar, terutama dari media-media yang tidak kredibel.

BANGUN SUPERTEAM

Saya suka nonton film tentang superheroes. Bukan hanya karena putri saya juga suka, film-film ini mengajarkan sesuatu yang penting: jangan jadi Superman, tapi bangunlah Superteam. Dalam semua film tersebut, kejahatan selalu bisa dikalahkan bersama-sama, tidak pernah bisa sendirian, sekalipun jagoannya adalah Superman.

Pengalaman kepemimpinan saya baik di dunia militer maupun sipil, mengajarkan orang-orang biasa yang bekerjasama dengan baik seringkali lebih sanggup menyelesaikan tugastugas, seberat apapun, dengan baik, ketimbang individu-individu yang berkemampuan tinggi tapi terlalu percaya diri untuk bekerjasama dengan orang lain. Saya selalu ingat ungkapan dari Afrika ini: “If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together.”

Tentu tidak mudah membangun super-team. Prosesnya tidak bisa instan, membutuhkan membangun rasa hormat dan percaya satu sama lain. Tapi inilah kunci untuk bisa bekerja bersama-sama mengatasi tantangan demi tantangan.